If Life is all about waiting

I believe all of us are experiencing a lot of “waiting time” in our everyday life. Just like what I’m facing now, probably. I even put “waiting” as the title of this 2011 J Because I’ve foreseen a lot of “big” waiting time that I’ll have to face this year. It has been started actually. My husband is planning to continue his study to the doctoral degree, and he has submitted all the application files by the end of last year. So, now I’m in the process of waiting for the result. After that, we will need to wait for the scholarship. Then we will need to apply and wait for the visa, coz the school is in the United States. Afterwards, we will have to wait for the time to leave for the school. Last but not least, I also wait for a baby😛 Those are some of my “big” waiting this year. Not to forget that I still need to wait for a bus almost every day, wait for the water to boil so that I can drink, wait for the laundry and dryer machine, wait for my husband to finish his work and join me eating or sleeping ;P, wait for class to be started, wait for a friend who’s late for his/her appointment, wait for a phone call, wait for an important email, and many other things. I believe that is what you’re experiencing day by day as well.

Few days ago, when I was just about to lose my patience in waiting for something, I pondered about all this waiting time in my life. Then I came up with an agreement with one of the movies tagline that says, “Life is waiting.” I can say that I totally agree with the tagline and I really do find that life is really about waiting. Right afterwards, a thought came up to my mind, if life is full of waiting, then shouldn’t we need to learn how to spend our waiting time wisely? Shouldn’t we learn how to maximize our waiting time? Shouldn’t we need to learn the art of waiting?

Most of us spend our time of waiting grumbling in impatience. I think most of us, if not all, don’t like waiting. Sometimes we simply spend our waiting time grumbling and resenting the time wasted, which eventually end up with a very bad mood and anger. Some other times we try to kill the time with the gadget we have in our hands or doing things we don’t really need to do, such as browsing here and there, reading (sometimes old) magazines we don’t really need to read, etc. The same thing when we’re waiting for the big things. Sometimes we just can’t wait so that we keep on nagging to God in our prayers. We can’t enjoy other big and beautiful things because our mind is so much focused on things that we’re waiting for. In short, we don’t do much in our waiting time. And since there’s so many waiting time in our life, then it means we waste so much time doing nothing important in our life.

So I think it’s really important for us to learn ‘the art of waiting’ that can help us to maximize and enjoy our waiting time. Sometimes it starts simply by anticipating the waiting time. Doing some of the things we have to do in our waiting time, such as reading the assigned readings. And for some big time of waiting like what I have, maybe we should learn to enjoy the uncertainty of waiting time, the uncertainty of our future, of our next plans. I am a planner, and always like to make plans😛 but with all this waiting time, I can’t make any plans. Initially it was a suffering for me, but, thanks God, eventually I learn to enjoy all the time that is unplanned yet. I learn to believe that though I haven’t planned anything, God has made a perfect plan for me.

This is not a comprehensive blog on how to spend our waiting time; it was never meant to be. It’s simply meant to invite all of us to think about the amount of waiting time in our life and to learn more about the art of waiting, the art of enjoying God in the time of waiting. The art which each of us should define it personally, with God.

You’re Chinese?!??

That was exactly my friend’s reaction when I told him that I’m Chinese. Well, at least both of us were shocked at that moment. He was shocked with the fact that I’m Chinese, and I was shocked with the fact that he thought I’m not Chinese J Wait a minute, don’t get me wrong. Both of us, and some other friends who were in the same conversation with us, are not racist. We were just talking about the coming Chinese New Year (CNY) and sharing about the CNY habit in our own country.

Well, I think it was not the first time I was considered not Chinese. It’s not difficult for me to find out the reasons why. First, because I’m not as white as any other Chinese in general. My skin is quite brown for Chinese, especially Singaporean Chinese. Second, maybe because my eyes are quite big compare to other Chinese. Third, probably because I don’t speak Chinese L Well, I was born as an Indonesian Chinese but none of my parents ever taught me Chinese. Both of them were also not so fluent in Chinese, though they can speak some Chinese dialects. I learnt Chinese for quite some time, though due to infrequent use, I can’t speak in Chinese and can only read some letters of it.

Anyway, Chinese or not Chinese doesn’t make any significant difference. God loves us all and he regards us all the same J What good news, right? 😉  Furthermore, Chinese and not Chinese we still get our Chinese New Year break😀 So, last but not least, Happy Chinese New Year😀  Xin nian kuai le ;p

Keeping Our Holidays Holy

I wrote an article on holidays few months ago, and I would like to share it here on my blog.

“Yeay!! Libur telah tiba!!” begitulah kira-kira luapan kegembiraan seorang anak menyambut datangnya liburan. Pada kenyataannya, kita tahu bahwa bukan hanya anak kecil yang gembira ketika liburan datang, tapi semua kita, tua muda, pria wanita, dan yang lainnya. Semua kita senang ketika liburan tiba. Tidak lain dan tidak bukan karena liburan identik dengan keluarnya kita dari rutinitas dan tekanan pekerjaan sehari-hari, entah itu “pekerjaan” kita sebagai murid, pekerjaan kita di kantor, ataupun pekerjaan kita sebagai ibu rumah tangga. Tidak hanya itu, liburan juga menggembirakan karena liburan identik dengan jalan-jalan. Ditambah lagi dengan semakin banyaknya budget airlines yang menjual tiket murah ke ragam tempat di luar negeri, dengan paket-paket dan harga khusus di NATAS, liburan semakin identik dengan kesempatan berjalan-jalan ke luar negeri. Begitu identiknya liburan dengan jalan-jalan, sampai-sampai kita merasa aneh dan kasihan kalau ada orang yang tidak ke mana-mana ketika liburan.

Liburan sungguh membangunkan harapan akan kebebasan dari ikatan rutinitas, menjanjikan kebebasan dan masa istirahat dari segala tekanan yang melelahkan. Namun tidak jarang terjadi, liburan berakhir bukan dengan pikiran dan tubuh yang lebih segar, tetapi dengan pikiran dan tubuh yang lebih capek, suntuk, dan lelah. Penyebabnya, tentu saja, beragam. Kadang simply karena jadwal tur yang kita ikuti atau jadwal liburan yang kita rancang terlalu padat sehingga menjadi terlalu melelahkan bagi kita pada akhirnya. Namun tidak jarang hal itu terjadi karena kita kurang memahami makna liburan yang sesungguhnya.

Pada dasarnya, liburan tidak semata-mata berarti keluarnya kita dari ikatan rutinitas sehari-hari yang menjemukan ataupun kesempatan untuk melakukan segala sesuatu yang kita mau, entah itu berkeliling dan berjalan-jalan ke negeri lain ataupun hal lainnya. Leonard Doohan, dalam bukunya Leisure: A Spiritual Need, menegaskan bahwa liburan mengandung makna rohani. Sebuah makna yang menurut saya seringkali tidak terlalu kita hayati atau bahkan kita abaikan sama sekali.

Liburan mengandung makna rohani karena liburan merupakan salah satu wujud kita merayakan sabat. Sabat merupakan sebuah perintah penting yang diberikan Allah pada kita, anak-anak-Nya, yaitu sebuah perintah untuk mengambil waktu beristirahat satu hari dalam satu minggu dan mengkhususkan hari itu untuk beribadah dan menyembah Allah. Itu sebabnya, tulis Doohan dalam bukunya, liburan bukan sekedar free time di mana kita bisa berelaksasi, tetapi jauh lebih luas daripada itu, liburan juga merupakan sebuah kesempatan yang Tuhan berikan bagi kita di mana kita bisa mengembangkan diri kita secara utuh di hadapan Tuhan. Dengan kata lain, liburan merupakan sebuah waktu dimana kita bisa beristirahat dan me-recharge diri kita secara signifikan dalam segala aspek, mulai dari aspek fisikal, emosional, dan bahkan spiritual.

Secara praktis, hal ini berarti bahwa merencanakan suatu liburan bukan sekadar merencanakan pergi ke sebuah tempat yang belum pernah kita kunjungi sebagai sebuah pengalaman baru, mempelajari tempat-tempat yang harus kita kunjungi di sana, dan berapa lama kita akan menghabiskan waktu di sana. Lebih dari pada itu, merencanakan liburan juga harus mencakup pertanyaan apakah tempat yang akan kita kunjungi dan aktivitas kita selama di sana akan membantu kita me-recharge diri kita secara fisikal, emosional, dan spiritual, atau sebaliknya, malah makin menguras diri kita dalam ketiga aspek tersebut.

Sebagai contoh: jika rutinitas kita sehari-hari telah begitu menyibukkan dan melelahkan kita sehingga kita kurang tidur, adalah perlu bagi kita untuk merencanakan “membayar utang tidur” ketika kita liburan (dan bukannya membuat fisik kita jadi lebih lelah lagi dengan jadwal jalan-jalan yang sangat padat). Jika dalam kesibukan kita tiap harinya, kita begitu tidak punya waktu untuk duduk santai dengan suami/istri dan anak-anak kita, adalah penting bagi kita untuk mengkhususkan waktu dalam masa liburan untuk bercengkerama dengan mereka (dan bukannya membuat jarak emosional kita dengan mereka semakin jauh/renggang dengan hanya melakukan banyak aktivitas bersama namun tanpa komunikasi yang dalam dan berkualitas). Jika dalam kehidupan kita sehari-hari, kita tidak begitu disiplin dalam berelasi secara pribadi dengan Tuhan (misalnya lewat bersaat teduh), adalah perlu bagi kita untuk menjadwalkan “waktu kencan” bersama Tuhan dalam masa liburan kita (dan bukannya membuat spiritualitas kita makin mandek dengan sekedar sibuk ini dan itu saat berlibur namun tidak juga memperbaiki relasi kita dengan Tuhan).

Jadi, liburan tidak harus dilewatkan dengan berpergian ke tempat yang baru ataupun berjalan-jalan, karena esensi liburan sesungguhnya adalah me-recharge diri kita secara utuh, secara fisikal, emosional, dan spiritual. Paradigma ini menantang kita untuk memikirkan ulang apakah kita perlu ikut tur dalam liburan kita, karena seringkali jadwal tur disusun dengan begitu padat tanpa ada kesempatan bagi kita untuk benar-benar me-recharge diri. Alhasil, seperti yang sudah saya singgung di atas, setelah pulang liburan, kita malah lebih capek dan lebih terkuras dari pada sebelumnya. Baik secara fisik (dalam kaitannya dengan beristirahat), emosi (dalam kaitannya dengan berelasi dengan anggota keluarga), maupun spirit (dalam kaitannya dengan kerohanian kita dengan Tuhan), keadaan kita tidak lebih baik dari pada sebelum kita berlibur. Singkatnya, liburan kita bisa jadi kontra-produktif.

Paradigma ini bukan berarti kita tidak boleh pergi ke tempat-tempat yang baru dan berjalan-jalan serta melakukan berbagai aktivitas di sana. Saya juga tidak bermaksud bahwa kita tidak perlu ikut tur dalam berlibur. Poin saya adalah liburan kita haruslah liburan yang produktif. Artinya, liburan yang dilakukan dengan pemahaman akan esensi liburan yang sesungguhnya (yaitu me-charge diri kita secara utuh). Jadi, sekalipun kita berlibur dengan berjalan-jalan dan beraktivitas di tempat/negara tertentu, mari kita “luangkan waktu” untuk beristirahat, bercengkrama secara mendalam dengan anggota keluarga kita, dan continually keep in touch with God. Atau jikalaupun kita menggunakan jasa tur dengan jadwal yang padat, mungkin ada baiknya kita spare free time satu atau dua hari setelahnya untuk me-recharge diri sebelum kembali pada aktivitas rutin sehari-hari.

Dengan memahami esensi liburan yang sesungguhnya dan melewati liburan kita dengan cara pandang yang baru ini, niscaya kita bisa lebih memaksimalkan kualitas liburan kita dan sungguh disegarkan lewat liburan yang kita jalani. Selamat berlibur!